AMBON, LaskarMaluku.com – Manajer Banteng Maluku Raya FC, Alhidayat Wajo, memastikan evaluasi menyeluruh akan dilakukan setelah tim asal Maluku tersebut gagal melaju ke fase berikutnya dalam putaran nasional Liga Soekarno Cup U-17.
Hasil tersebut, menurut Alhidayat, justru menjadi momentum bagi DPD PDI Perjuangan Maluku untuk membenahi sistem persiapan, pembinaan pemain, hingga mempercepat agenda zonasi guna menghadapi kemungkinan kembali digelarnya putaran nasional pada 2027.
Banteng Maluku Raya FC menjalani tiga pertandingan pada putaran nasional. Pada laga pertama menghadapi Banteng Kalimantan Barat, Maluku Raya FC sempat kalah 3-4. Pertandingan tersebut kemudian dimainkan ulang dan Maluku Raya FC berhasil meraih kemenangan tipis.
Namun, hasil itu belum cukup mengantarkan tim Maluku ke fase berikutnya setelah pada pertandingan melawan Jawa Timur kalah 0-2 dan kembali tumbang 1-2 dari Jawa Barat.
Alhidayat menilai hasil tersebut harus dibaca sebagai bahan evaluasi terhadap kesiapan tim, bukan semata-mata persoalan hasil pertandingan. Menurut dia, skuad Banteng Maluku Raya FC dibentuk melalui proses seleksi berdasarkan zona sehingga mayoritas pemain yang terpilih berasal dari kampung-kampung dengan latar belakang pemain amatir.
“Pertandingan pertama, kedua, dan ketiga itu Maluku Raya FC menang saat melawan Banteng Kalimantan Barat karena pertandingan pertama harus diulang, melawan Jawa Timur kita kalah dua kosong, Jawa Barat kita kalah 2-1.
Kekalahan kemarin itu menjadi semangat buat kami, khususnya di DPD PDI Perjuangan Provinsi Maluku, untuk kembali menata tim agar lebih awal mempersiapkan diri dengan baik,” kata Manajer Banteng Maluku Raya FC, Alhidayat Wajo.
Ia mengatakan, kemungkinan kembali digelarnya putaran nasional pada 2027 membuat Maluku harus mulai melakukan pembenahan sejak dini. Sistem seleksi berbasis zonasi juga diproyeksikan tetap digunakan untuk menjaring pemain dari berbagai wilayah.
“Karena tahun depan 2027, sesuai dengan agenda yang disampaikan secara lisan kemarin, kemungkinan ada putaran nasional lagi dan sistemnya di Maluku masih tetap sama, yaitu dibuat per zonasi untuk mencari bibit pemain,” ujarnya.
Alhidayat mengakui terdapat sejumlah persoalan mendasar yang perlu dibenahi apabila Maluku ingin memiliki tim yang lebih kompetitif di tingkat nasional.
Salah satunya adalah sistem pembinaan pemain yang dinilai belum berjalan optimal.
Menurut dia, karakter Liga Kampung membuat pemain yang direkrut berasal dari lingkungan sepak bola akar rumput. Kondisi tersebut menjadi tantangan ketika pemain harus berhadapan dengan tim dari daerah yang memiliki ekosistem sepak bola lebih maju dan sistem pembinaan yang lebih terstruktur.
“Kekalahan itu sebenarnya banyak hal yang bisa dievaluasi. Yang pertama soal kesiapan tim itu sendiri. Tim ini dibentuk dari hasil seleksi masing-masing zonasi. Karena yang namanya Liga Kampung, maka kita ambil pemain dari kampung-kampung yang boleh dibilang pemain amatir yang minim pengalaman,” katanya.
Selain kualitas dan pengalaman pemain, keterbatasan fasilitas lapangan juga menjadi persoalan. Alhidayat menilai sarana pendukung sepak bola di Maluku masih belum memadai untuk menunjang pembinaan pemain secara berkelanjutan.
Ia juga menyoroti minimnya pelatih berlisensi yang dapat menjangkau pembinaan hingga tingkat kampung. Menurutnya, pelatih dengan lisensi tertentu masih lebih banyak terkonsentrasi di Ambon, Maluku Tengah, serta sejumlah kabupaten/kota lainnya.
“Kita sadari bahwa sistem pembinaan kita belum begitu baik, demikian juga fasilitas pendukung seperti lapangan sepak bola yang tidak memadai di Provinsi Maluku, termasuk pelatih yang memiliki lisensi masih cukup sedikit dan itu hanya tersebar di Kota Ambon, Maluku Tengah, dan kabupaten/kota lainnya,” ujarnya.
Kondisi tersebut, menurut Alhidayat, menjadi salah satu pembeda dengan sejumlah daerah di Pulau Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan yang memiliki ekosistem sepak bola lebih berkembang. Ketersediaan pelatih berlisensi dan infrastruktur yang lebih luas membuat proses pembinaan pemain dapat dilakukan secara lebih terstruktur.
Kegagalan di putaran nasional menjadi alasan bagi Banteng Maluku Raya FC untuk mempercepat proses pencarian pemain potensial. Seleksi berbasis zonasi dinilai penting karena memberikan ruang lebih luas kepada pemain muda dari kampung-kampung untuk masuk dalam sistem pembinaan.
Agenda tersebut akan dibahas setelah rangkaian putaran nasional berakhir. Alhidayat menyebut penutupan putaran nasional dijadwalkan berlangsung pada 24 Agustus, setelah itu DPD PDI Perjuangan Maluku akan mengikuti rapat koordinasi dengan DPP PDI Perjuangan.
“Karena putaran nasional penutupan 24 Agustus nanti, setelah balik ada rapat koordinasi DPD dengan DPP PDI Perjuangan. Selanjutnya agenda tahunan 2027 akan dibahas juga secara nasional,” kata Alhidayat.
Menurut dia, pelaksanaan kembali program tersebut di Maluku akan menyesuaikan keputusan dan program kerja DPP PDI Perjuangan. Jika program kembali dijalankan, DPD PDI Perjuangan Maluku menyatakan siap melaksanakannya.
“Tentu kami di Maluku harus siap melaksanakannya sepanjang itu masuk dalam program kerja DPP PDI Perjuangan dan kami DPD PDI Perjuangan Provinsi Maluku akan melaksanakan itu,” ujarnya.
Pengembangan sepak bola Maluku, menurut Alhidayat, tidak cukup hanya dilakukan melalui Liga Soekarno Cup. Ia membuka ruang komunikasi dengan para senior sepak bola Maluku yang memiliki pengalaman di kompetisi profesional maupun mantan pemain tim nasional.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memperluas jejaring sekaligus memperoleh pengalaman dari pihak-pihak yang telah memahami dinamika sepak bola profesional Indonesia.
Alhidayat mengatakan komunikasi awal bahkan telah dilakukan dengan salah satu pihak yang memiliki keterkaitan dengan sepak bola Maluku. Pertemuan lanjutan akan dilakukan untuk membicarakan kemungkinan pengembangan klub sepak bola di daerah.
“Tadi malam sudah berkomunikasi dengan salah satu pemilik bola Maluku FC, Pak Maulana. Kami berdua akan bertemu, agendanya nanti disesuaikan untuk mendiskusikan pengembangan klub sepak bola di Maluku,” katanya.
Ia menegaskan komunikasi tersebut merupakan bagian dari strategi untuk menghidupkan kembali sepak bola Maluku yang dinilainya telah lama mengalami kevakuman dalam aspek pengembangan kompetisi dan pembinaan.
Alhidayat juga menilai pembangunan sepak bola Maluku tidak dapat dibebankan kepada satu pihak. Pemerintah daerah dan kalangan dunia usaha dinilai perlu mengambil bagian dalam menciptakan ekosistem sepak bola yang lebih kuat.
Menurut dia, pembinaan pemain muda harus dimulai sejak usia dini dan dilakukan secara berkelanjutan. Latihan tidak hanya bergantung pada aktivitas di lapangan, tetapi juga membutuhkan kedisiplinan pemain di luar lapangan.
“Harapannya ke depan, untuk membangun sepak bola ini kan tidak bisa satu orang saja. Maka kami berharap pemerintah daerah, kemudian para pengusaha yang berada di Maluku, juga harus berpartisipasi untuk membangun sepak bola buat generasi muda Maluku,” ujarnya.
Dorongan tersebut menjadi semakin penting karena pembentukan pemain berkualitas membutuhkan proses panjang. Kompetisi, fasilitas, pelatih, serta dukungan pembiayaan harus berjalan secara bersamaan agar pemain muda tidak berhenti pada tahap seleksi atau kompetisi lokal.
Selain sepak bola, Alhidayat menyebut program olahraga PDI Perjuangan pada 2027 masih berada dalam tahap pembahasan. Jika terealisasi, program tersebut tidak hanya mencakup sepak bola, tetapi juga bola voli.
Namun, format yang dibicarakan bukan futsal ataupun sepak bola mini. Program tersebut diarahkan pada pertandingan sepak bola dengan lapangan dan gawang standar sebagaimana sepak bola konvensional.
Dengan demikian, kegagalan Banteng Maluku Raya FC pada putaran nasional tahun ini berpotensi menjadi titik evaluasi untuk membangun sistem yang lebih panjang. Persoalan pembinaan, fasilitas, pelatih berlisensi, hingga pola rekrutmen pemain menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum Maluku kembali menghadapi persaingan tingkat nasional.
Jika agenda 2027 benar-benar kembali digelar, tantangan bagi Maluku bukan sekadar membentuk tim baru. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana memastikan pemain hasil seleksi zonasi memiliki waktu pembinaan yang cukup, dukungan pelatih berkualitas, fasilitas latihan yang memadai, serta kompetisi yang berkesinambungan sebelum menghadapi lawan dari daerah dengan ekosistem sepak bola yang lebih matang. (L05)









